>
anda sedang membaca...
Uncategorized

Warga Wera Melawan Koorporasi Tambang Pasir Besi

  • Masuknya Korporasi Tambang Pasir Besi

Sepuluh tahun terakhir bahan baku baja menjadi sumber ekonomi bagi beberapa Negara yang sedang maju seperti, China, India, singapura dan Australia. Sehingga Negara-negara berkembang yang lemah technology menjadi sasaran ekspansi mereka. Indonesia salah satu negara yang berhasil dipengaruhi hal tersebut dintadai dengan di keluarkannya KepMendag No 38 tahun 2008 dengan menetapkan bahan baku ekspor jenis pasir Besi tidak dikenakan bea pungutan ekspor, selain itu pemerintah pusat juga memberikan keleluasaan bagi para pemodal tambang melalui dua kebijakan perundangan yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, lewat kebijakan tersebut pemerintah daerah diberi kekuasaan untuk mengeluarkan ijin pertambangan. Dengan demikian, pemodal bisa leluasa mengeruk kekayaan alam daerah.

Pada tahun 2004 pemerintah kabupaten bima memberikan izin kepada 4 perusahaan yakni PT Jagad Mahesa Karya, PT Indomaining Karya Buana, PT Global Resurse, PT Lianda Intan Mandiri untuk mengeruk pasir dengan luas areal sebesar 3.770 hektar dengan rincian daerah pantai, daratan dan laut. Proses dikeluarkannya izin ke 3 perusahaan tersebut sama sekali tidak melibatkan warga yang bermukim dan memiliki lahan di sepanjang pesisir pantai wera. Di tahun 2008 perusahaan mulai beraktifitas dengan membangun tempat pengolahan pasir. Bagi rakyat Bima, yang punya ikatan kuat secara kultural dengan alam dan tanahnya, kehadiran perusahaan tambang tersebut jelas merupakan ancaman terhadap kehidupan mereka.

  • Dampak

Pasir besi merupakan mineral yang mengendap di sekitar pantai, rawa dan muara sungai, endapan ini biasanya terdapat pada permukaan sampai ke kedalaman 15 meter.  Proses pengambilan pasir besi dilakukan dengan cara membongkar dan mengangkut endapan ke alat pemisah yang bersifat magnet untuk memisahkan pasir besi dari komponen ikutan non logam seperti pasir, tanah dan batuan. magnet pemisah ini biasa disebut pekerja tambang sebagai processing magnet sparator.

Magnet sparator berkerja memurnikan pasir besi berdasarkan sifat logam yang dimiliki, bahan galian yang di masukan ke dalam processing akan terpisah menjadi 5 bagian, batu coral, air bersama pasir dan tanah ke 4 bagian ini dibuang dalam bentuk limbah cair dan padat. sedangkan pasir besi akan menempel pada magnet akan diambil dan selanjutnya dengan eskalator akan ditimbun ke penyimpanan atau gudang. dari gudang pasir besi akan diangkut ke loading area di pelabuahan untuk selanjut dibawa ke tempat buyer.

Dalam pandangan fisik aktivitas ekstraksi mineral logam ini terlihat sederhana, tapi tidak demikian dengan daya rusak kesungguhannya. Aktivitas ekstraksi ini membawa dampak buruk baik dalam bentuk kerusakan alam maupun secara sosial ekonomi

Proses pengerukan pasir akan membuat kawasan lindung pesisir pantai yang biasanya dalam bentuk hutan mangrove dan cemara akan terbabat habis. Namun dalam kasus Wera, kawasan pesisir didominasi oleh lahan pertanian warga. Lebih jauh, tentu penambangan pasir oleh korporasi besar bukan hanya 1 atau dua meter saja, tetapi dapat mencapai ribuan hektar dengan panjang puluhan kilometer.

Orang yang melihat kondisi pantai ketika tambang beroperasi atau pasca tambang tanpa melihat kondisi lahan sebelum tambang beroperasi, tidak akan dapat melihat perubahan ekstrem yang terjadi pada kawasan ini, akan berbeda dengan pandangan mata masyarakat di sekitar tambang yang dapat membandingkan perubahan pantai sebelum dan sesudah tambang beroperasi.

Pengerukan pasir besi selain memangkas bagian terluar wilayah Wera. Secara fisik juga akan merubah dan merusak bentang alam kawasan laut yang merupakan habitat biota seperti ikan kepiting, dll. Pengerukan akan membentuk lahan menjadi lobang- lobang besar dengan radikal bebas logam yang tersisa.

Pemisahaan pasir besi yang menggunakan sistem magnetik rakus akan air. Untuk memisahkan 50.000 m3 pasir besi dibutuhkan air sebanyak 20.000 m3, untuk memenuhi kebutuhan air ini, perusahaan akan membendung muara sungai dan mengalihkan aliran sungai menuju proccesing melalui pipa besar. Proses pembendungan sungai ini akan menyebabkan luapan air menggenangi kawasan pertanian, pemukiman dan sentra aktivitas warga lainnya.

Selain itu, efek luar biasa akibat pembendungan ini adalah kerusakan ekosistem yang tidak kasat mata tetapi akan terasa oleh nelayan sekitar. Pemusnahan masal terhadap kekayaan biodiversity laut. Disetiap proses pemurnian akan ada bagian yang diambil, dan akan ada bagian yang dibuang dalam bentuk limbah. Banyaknya limbah yang dibuang tergantung dari berapa kadar pasir besi di wilayah endapan yang diambil. Senyawa kimia yang dibongkar dan terikut dalam prosesing dan bukan berunsur logam, akan terlepas bebas ke air dan lingkungan tempat pembuangan limbah. ikan yang hidup disungai dan pantai sekitar pembuangan limbah ini biasanya akan mati serentak dalam jumlah yang besar, kalaupun ada yang tersisa ikannya ditemukan dalam kondisi yang tidak layak konsumsi.

Dapat dipastikan apabila aktivitas tambang pasir besi terus dilanjutkan apalagi dalam jumlah yang besar (Puluhan ribu ton), maka yang terjadi bukan hanya kerusakan lingkungan, melainkan terjadi efek domino yang meluas pada  kehidupan sosial ekonomi masyarakat Wera.

Semenjak eksploitasi tersebut berlansung, mata pencaharian warga terganggu. Keberadaan Eksploitasi tambang pasir itu dapat menghancurkan biota laut yang berakibat pada kehilangan mata pencaharian nelayan sekitar perairan itu. Begitupun pada sektor pertanian, masyarakat yang memiliki lahan di sekitar itu bisa dirugikan dengan dengan semakin meluap dan mengikisnya air laut. Hal itu akan mempengaruhi perubahan kandungan air tawar menjadi air asin. Sehingga akibatnya, tanaman pertanian warga pun rusak

  • Perlawanan warga wera dan represifitas aparat

Bagi rakyat Bima, yang punya ikatan kuat secara kultural dengan alam dan tanahnya, kehadiran perusahaan tambang tersebut jelas merupakan ancaman terhadap kehidupan mereka.  Selain itu sama sekali tidak ada penelitian amdal dan dampak sosial yang ditimbulkan. Protes warga yang menentang eksploitasi pertambangan pasir besi disebabkan oleh kenyataan bahwa keberadaan ketiga perusahaan tersebut merugikan warga.

 

Tiap tahunnya, pihak PT. Indomining seharusnya membayarkan royalti sebesar Rp 1,5 miliar, tetapi hal tersebut tidak pernah jelas dan kalaupun dibayarkan, tidak jelas alokasinya. Disini kelihatan kongkalikong antara Pemkab, dalam hal ini Bupati Bima, H. Fery Zulkarnain, ST dengan pihak PT. Indomining dan dua perusahaan lainnya. Bahkan Pihak pemkab dan DPRD tidak memperlihatkan itikad baik menyelesaikan masalah dan justru mencoba menyulut konflik horizontal, dengan mempertentangkan warga yang menentang penambangan pasir dengan pihak yang menyepakati.

Dipenuhi atau tidak dipenuhinya serangkaian regulasi seperti persyaratan investasi, kontrak karya maupun analisis amdal oleh perusahaan bukanlah permasalahan yang sebenarnya. Namun Hal yang paling buruk dari kejahatan korporasi tambang, adalah seringnya terjadi perampasan tanah rakyat sebagai sumber kehidupan yang diperhalus dengan istilah pembebasan lahan. Hal ini juga  didukung dengan adanya aturan legal yang memudahkan perusahaan-perusahaan untuk mengeksploitasi tanah rakyat. Diperburuk pula dengan aksi kongkalikong pemerintah daerah setempat dan aparat keamanan yang digunakan sebagai alat untuk melakukan penindasan terhadap aksi-aksi perlawanan warga yang dirugikan.

Karena itulah rakyat Bima telah melakukan perlawanan sehebat-hebatnya. Meskipun berkali-kali mendapatkan represi, tetapi perlawanan rakyat tidak memperlihatkan tanda-tanda akan surut.

Pada bulan Juni 2008, warga melakukan aksi di kantor DPRD dan Kab.Bima namun, tidak membuahkan hasil. Karena kecewa dengan sikap pemerintah dan DPRD kab bima warga merusaki tempat pengolah pasir perusahaan. Akibatnya ratusan aparat yang terdiri dari brimob dan kepolisisan resort kota bima menyerang dengan membabi buta di perkampungan warga sehingga banyak warga terluka akibat di pukuli oleh aparat dan puluhan tertangkap Karena ketakutan dengan kebrutalan pihak kepolisian, ribuan warga melarikan diri ke hutan dan gunung yang berada agak jauh dari pemukiman mereka.

Nama warga yang  ditangkap pada aksi ini : Haji Wahab, Ridwan Yusuf, Abdul Rahman,  Arifin, ArisFandi, Masrin, Masrun Karim, Yasin, Hasanuddin, Burhan, Sri Hartati, Sahruddin, Imran, Hasan.Selain itu, seorang warga bernama M. Saleh saat itu dirawat di Puskesmas Wera dan tidak  sadarkan diri.

Tekanan terhadap warga masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan lebih licik lagi, banyak preman yang dibayar untuk menjaga eksistensi pertambangan dan menakut-nakuti warga yang melawan. Tentu saja pihak penambang yang berada dibalik preman-preman ini.

Sepanjang tahun 2009, perlawanan warga masih terus terjadi meskipun tidak dalam skala yang massif. Hal ini mungkin disebabkan oleh trauma atas represifitas aparat terhadap warga. Disamping itu faktor lain yang menyebabkan lemahnya gerak resistensi warga adalah kurangnya komunikasi antar petani/warga dari masing-masing desa di Wera yang terkena dampak pertambangan untuk mengorganisir perlawanan yang lebih luas. Perlawanan yang nampak cukup sektarian.

Juni 2010, menjadi titik awal ekspor hasil aktivitas tambang pasir besi dari Wera Ke Cina. Tepatnya di desa Oi Tui oleh PT . Jagad Mahesa Buana. Sebanyak 10.000 ton pasir besi di ekspor pada pengiriman perdana itu. Sebelumnya telah melalui proses penambangan secara manual melibatkan masyarakat serta pengolahan hingga menjadi pasir besi murni. Target pengiriman pasir besi akan meningkat setiap bulannya dengan rencana tambahan 50.000 ton. Target yang ingin dicapai dalam satu tahun pengiriman adalah 200.000 ton per bulan. Bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang akan dialami oleh warga wera dengan jumlah target pengerukan pasir Besi yang terus meningkat.

Pernyataan yang ironis keluar dari setda Muhammad Nur, bahwa konflik yang terjadi di desa tertentu (dusun radu,desa sangiang,dll) tidak akan membias ke desa lainnya. Sementara fakta menunjukkan bahwa warga di desa Oi Tui juga menunjukkan perlawanan yang cukup nyata bagi aktivitas tambang. Selain itu Nur juga mengatakan bahwa Keamanan pada wilayah ekspansi tambang tidak hanya dibebankan kepada aparat TNI dan Polri, melainkan juga tanggung jawab masyarakat atas daerahnya. Karena apabila jika warga mampu melakukan konsolidasi menjaga keamanan, maka akan banyak investasi yang tentunya memiliki dampak baik bagi kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Secara sepihak pemda Bima juga coba untuk menggambarkan bahwa Potensi tambang memiliki kontribusi penting dalam menopang perekonomian daerah karena disamping akan mendapatkan devisa dari investasi tersebut ini, sudah jelas akan menjadi pemicu pertumbuhan sektor lainnya serta menyediakan kesempatan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar tambang khususnya di kecamatan Wera.

Pandangan ini tentu saja omong kosong dan menyesatkan. Tentunya sebuah korporasi pertambangan adalah notabene jenis perusahaan yang mebutuhkan tenaga professional di bidangnya. Tentunya pula selama membangun perusahaan, mereka telah memiliki tenaga ahli yang akan menjalankan strategi produksi maupun distribusi tambang mereka. Dan para tenaga ahli tersebut bukanlah warga atau pemuda lokal Wera yang pada umumnya hanya bermata pencaharian pada sektor pertanian dan nelayan. Jika pun diperkerjakan, besar kemungkinan yang dipekerjakan hanyalah mereka yang berstatus pegawai negeri itupun tidak pada posisi strategis.

Ada beberapa pertanyaan mendasar mengenai hal ini, Jika warga di sekitar tambang telah terbiasa dengan kultur perekonomian tradisional, mengapa mereka dipaksa untuk menyambut kedatangan investasi tambang yang justru hanya akan merusak kehidupan ekosistem lingkungan dan mengancam sumber mata pencaharian mereka?  Apakah warga membutuhkannya? faktanya perusahaan yang dalam operasinya melakukan aktivitas tambang dimana pun hanya dapat membawa petaka bagi masyarakat setempat. Seperti yang terjadi Papua. Ketika Freeport masuk tahun 1973,  hanya dalam waktu 14 tahun saja, Gunung Ertsberg di Papua sudah berubah menjadi sebuah lubang raksasa sedalam 200 meter dengan garis tengah sekitar 600 meter. Padahal sebelumnya gunung ini tingginya mencapai 1300 meter. Atau warga teluk buyat yang dominan bermata pencaharian sebagai nelayan harus kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal mereka karena terpaksa mengungsi akibat kontaminasi limbah yang dilakukan oleh aktivitas tambang minyak oleh PT. Newmont Minahasa Raya.

Februari 2011, masih dengan semangat yang sama, ribuan warga kecamatan Lambu di Bima melakukan unjuk rasa menolak pertambangan yang akan dilakukan oleh PT. Sumber Mineral Nusantara dan PT. Indo Mineral Cipta Persada. Pada unjuk rasa ini, Ahmadin, seorang aktivis ditahan Polres Bima karena dugaan melakukan pembakaran terhadap basecamp PT. Valey Sumbawa Mining. Karena Polisi tidak juga merespon dengan baik tuntutan warga, massa pun membakar kantor Polsek dan menyandera Kapolseknya. Sore harinya, sekitar pukul 18.10 WIB, Polisi menyerbu warga desa dengan senjata lengkap. Sembilan orang rakyat terkena tembakan peluru tajam dan tiga orang lainnya ditangkap.  kini hampir semua Kecamatan yang ada di Bima tengah menanti kehancurannya jika operasi pertambangan tetap dibiarkan dan tidak mendapatkan perlawanan yang kuat.

Melihat kenyataan buruknya efek yang ditimbulkan oleh korporasi tambang terhadap kehidupan warga, maka perlawanan adalah suatu keniscayaan. Hanya saja, hal yang patut dihindari dari perlawanan yang terjadi saat ini baik di Wera maupun kecamatan lain di Bima adalah, bahwa perlawanan ini disempitkan menjadi isu kekerasan dan HAM semata, sementara pemicu kemarahan rakyatnya tidak digaungkan. Oleh karena itu, berhubung kejadian semacam ini terjadi juga di daerah-daerah lain, maka solidaritas dan jaringan perlawanan menjadi sebuah kewajiban.

 

Advertisements

About barawera

Usir Tambang Pasir Besi di Wera!

Discussion

4 thoughts on “Warga Wera Melawan Koorporasi Tambang Pasir Besi

  1. panjang umur resistensi!

    Posted by ceszvkunrsky | April 12, 2011, 7:30 am
  2. coy,bagaimana car kasi masuk tulisan disini?

    Posted by ceszvkunrsky | April 12, 2011, 7:32 am
  3. SALAM PEMBESASAN RAKYAT WERA.
    – Saya tidak sepakat kalo tambang pasir besi melakukan ekspolarasi hasil alam kita, karna itu akan menghasilkan dampak yang besak bagi kita, karna dalam pandangan saya, masyarakat wera yang notabenenya petani dan nelaya, ketika diperhadapkan dengan persoalan tambang apa yang akan terjadi…?????
    pertanyaan kemudian, siapakah yang akan di untungkan kitaka tambang ini melakukan ekspolarasi dan eksploitasi??? tentu para penjilat besa yang ada di situ, apa lagi pemimpin kita hari ini yang gak mau berpihak pada rakyat.
    mari kita tolak tambang sampai dengan titik darah penghabisan. hidup rakyat

    Posted by muamar al khadafi | May 19, 2011, 3:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: